Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

BERTEKUN DALAM KASIH

“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu
dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama,”
Matius 22:37-40

Di saat seseorang bertobat, mengakui dosa-dosanya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, maka pada saat itu dia lahir baru dan menjadi anak Allah. (Yoh 1:12)
Kelahiran baru merupakan awal perjalanan kehidupan kekristenan menuju kedewasaan dalam Kristus. Awalnya manusia cenderung menggebu-gebu dan antusias dalam hal mengasihi, baik kepada Tuhan maupun sesama, tetapi seiring dengan berjalannya waktu gairah ini bisa semakin menurun dan memudar, bila tidak dijaga.

Orang yang kehilangan kasih yang mula-mula, dapat melakukan aktivitas dengan baik, berjerih lelah, namun dia melakukannya bukan karena kasih namun karena “harus” melakukan hal tersebut. Tuhan menghendaki kita melakukan sesuatu dengan berjerih lelah dengan motivasi yang benar yaitu karena mengasihi Tuhan.
Bagaimana kita dapat memiliki kasih yang konsisten dalam kehidupan ini? Yaitu dengan bertekun dalam kasih. Bertekun memiliki pengertian: berkeras hati dan sungguh-sungguh (bekerja, belajar, berusaha, dsb), sedangkan kasih memiliki pengertian perasaan sayang (cinta, suka).

Prinsip bertekun dalam kasih:

1. Membangun Hubungan Yang Benar
Hubungan merupakan faktor utama untuk dapat memiliki kasih yang konsisten. Karena melalui hubungan yang erat dan mendalam terciptalah kesatuan. Hubungan yang intim dengan Tuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti: pujian dan penyembahan yang dilakukan secara pribadi, melalui mezbah keluarga, mengikuti program HEBAT (Hari Enerjik Baca Alkitab Teratur), aktif di COOL, Ibadah Raya, dan lain lain. Melalui hubungan yang intim dengan Tuhan, maka energi rohani akan mengalir. Karena itu walaupun banyak kesibukan, tetaplah memberikan waktu yang terbaik bagi Tuhan.

2. Berpegang Pada Kekudusan
Takut akan Tuhan adalah rasa hormat kepada Tuhan dan menjauhkan diri
dari berbuat kejahatan. Yusuf seorang pria yang masih sangat muda belia memiliki sikap takut akan Tuhan yang patut diteladani. Yusuf diberi kesempatan untuk digoda oleh isteri Potifar. Walaupun godaan itu datang berkali-kali, tetapi dengan tegas Yusuf tetap menolaknya. (Kej 39:10)
Kadangkala Tuhan izinkan ada kesempatan untuk berbuat dosa sebagai ujian bagi kita, tetapi bagaimana sikap kita dalam menghadapinya? Yusuf berhasil keluar sebagai pemenang dalam menghadapi ujian ini, sehingga ia dipromosikan oleh Tuhan.
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Pet 1:15-16)

3. Berkomitmen Pada Kebenaran
Apa yang dikatakan benar oleh firman Allah adalah kebenaran, apa yang dikatakan salah oleh firman adalah tetap salah, walaupun orang banyak mengatakan sebaliknya. Tuhan tidak suka ketika orang berkompromi dengan standar kebenaran sekalipun hal tersebut telah menjadi tren yang telah diikuti oleh banyak orang.
Salah satu ciri khas dalam era post modern ini menurut Alvin Toffler ialah tidak ada lagi sistem nilai yang bersifat absolut, semuanya bersifat relatif, termasuk kebenaran. Alkitab menyatakan bahwa firman Allah adalah kebenaran yang absolut, bahkan Yesus sendiri mengatakan bahwa Dialah kebenaran itu sendiri. Tuhan Yesus menentang siapapun di dalam jemaat-Nya yang menunjukkan sikap bertoleransi terhadap dosa. (Yoh 17:17, 14:6)

4. Siap Diproses Oleh Tuhan
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” (Why 3:19)
Kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan seringkali merupakan cara Tuhan untuk memproses anak-anak-Nya. Untuk dapat bertekun dalam kasih, kita harus siap diproses oleh Tuhan melalui berbagai keadaan.
Bila diresponi dengan benar, maka proses apapun yang Tuhan ijinkan akan dapat membuat kasih semakin mendalam.

5. Mengembangkan Sikap Saling Mengampuni
Pengampunan dan kasih seperti dua sisi dari 1 mata uang yang sama. Dalam perjalanan kekristenan kita akan berinteraksi dengan pribadi-pribadi di sekitar kita dan konflik dapat saja terjadi; kapan saja dan di mana saja. Konflik yang tidak dibereskan mengakibatkan pribadi yang mengalaminya akan terluka, kecewa, sakit hati, tidak dapat bertumbuh dan bertekun dalam kasih. Konflik dapat diselesaikan dengan saling memberikan pengampunan.
Kasih kepada Allah adalah dasar untuk kita dapat mengasihi sesama. Semakin besar kasih seseorang kepada Tuhan, semakin besar pula kemampuannya untuk mengasihi sesamanya. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh 4:11). Kasih itu perlu dirawat sehingga semakin bertumbuh.

Sama seperti kasih suami isteri yang baru menikah, biasanya menggebu-gebu luar biasa, tetapi kalau tidak dirawat perlahan-lahan dapat menjadi redup dan akhirnya padam. Kasih kepada Allah sama halnya dengan hubungan suami isteri yang merupakan gambaran yang dipakai Alkitab untuk melukiskan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. (Efesus 5:33)
Kasih kepada kepada Allah dan sesama, harus diupayakan dengan bertekun, bersungguh-sungguh, bekerja keras, belajar, dan berusaha. Bertekun dalam kasih berarti terus-menerus dengan segala upaya untuk bersungguh-sungguh semakin mengasihi Allah dan sesama. (JS).

Quote:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama,” Matius 22:37-38







 

BACK..