Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

BOLEHKAH MEMILIKI ASURANSI?

“Rencana berhasil oleh pertimbangan; sebab itu, janganlah berjuang tanpa membuat rencana yang matang.” Amsal 20:18


Jawaban dari pertanyaan: “Apakah sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita boleh memiliki asuransi?” kerap mengundang perdebatan baik diantara jemaat maupun pelayan jemaat. Mereka yang berkata “tidak boleh!” umumnya berpendapat bahwa memiliki asuransi adalah sama saja dengan lebih mengandalkan manusia daripada Tuhan dan dengan memiliki asuransi artinya mengimani bahwa di masa depan akan terjadi sakit atau hal buruk pada diri kita; sehingga dengan demikian kita tidak beriman bahwa Tuhan memberikan masa depan yang penuh berkat dan pengharapan.

Sebaliknya, orang-orang Kristen yang berkata “boleh” umumnya berpendapat bahwa memiliki asuransi artinya mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi; yang walau sangat tidak diharapkan namun sangat mungkin dapat terjadi. Tidak ada orang Kristen yang memiliki asuransi yang mengimani untuk sesuatu yang buruk terjadi, namun semata-mata hanya mempersiapkan diri jika hal tersebut terjadi pada mereka.

Bagaimana Alkitab menyikapi perihal asuransi? Artikel ini akan menjelaskan secara sederhana mengapa memiliki asuransi adalah hal yang baik dan boleh, sekalipun di dalam Alkitab tidak ada ayat yang secara spesifik merujuk kepada asuransi. Namun mau memiliki asuransi atau tidak adalah suatu keputusan yang dibuat oleh masing-masing orang.

Pada akhirnya kita harus menghormati keputusan yang diambil sesama saudara kita akan hari depan mereka dan bagaimana cara mereka menghadapi jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. (Roma 14:7,10)

CARA MENGHADAPI SESUATU YANG TIDAK DIHARAPKAN

1. Membuat Perencanaan Keuangan
Alkitab kerap mengajar melalui berbagai ayat dan peristiwa bahwa perencanaan untuk kebutuhan hidup di hari depan adalah hal yang baik dan amat disarankan, termasuk dalam hal perencanaan keuangan.

Pengajaran akan hal ini meliputi persembahan kepada Tuhan (Amsal 3:9-10; Maleakhi 3:10; Lukas 11:42) dan perencanaan keuangan untuk menghadapi masa depan maupun situasi/kondisi yang tidak diharapkan. (Amsal 21:5; Lukas 14:28-32)

Alkitab memuji orang-orang percaya yang memiliki perencanaan yang baik dalam hidup mereka, termasuk secara finansial. Perhatikan penekanan pentingnya memiliki perencanaan yang baik dalam:

“Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya hanya akan mengalami kekurangan.”
Amsal 21:5

Di dalam konteks perencanaan yang baik inilah, maka memiliki asuransi adalah juga hal yang baik. Ini bukan berarti kita mengingkari penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan (Mazmur 2:12; 9:10-11; 118:8 dan banyak lagi), malah justru perencanaan yang baik artinya kita mengikuti petunjuk dan hikmat yang Roh Allah berikan kepada kita.

Kisah Yusuf di Mesir (Kejadian 41-46) menjadi pelajaran yang berharga; bagaimana ia diangkat oleh Firaun untuk menjadi kuasa atas seluruh Mesir dan membuat perencanaan guna menghadapi bahaya bencana kelaparan yang Tuhan tunjukkan. Yusuf menekankan pentingnya tuntunan Tuhan dalam membuat perencanaan.

“Yusuf menyahut Firaun: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.”
Kejadian 41:16

Prinsip perencanaan yang baik dan penyerahan diri kepada hikmat dari Tuhan-lah yang selalu Yusuf tonjolkan di dalam perkataan-perkataannya (Kejadian 41:25-41; 45:4-5) sehingga akhirnya pelaksanaannya pun berhasil.

Kita tentu berdoa dan berharap agar tetap sehat dan tidak ada hal yang buruk menimpa kita. Tetapi realita kehidupan di atas muka bumi ini menunjukkan bahwa semakin bertambahnya usia maka kekuatan badani kita pun akan makin berkurang. Dengan bertambahnya usia manusia akan rentan terhadap sakit-penyakit. Dunia yang kita huni ini pun terus mengalami degradasi karena kejatuhan manusia dalam dosa. Ketidak sempurnaan hidup tetap ada sehingga bencana yang terjadi karena ulah manusia seperti kecelakaan, perang, kerusakan lingkungan dan sebagainya, tetap menjadi resiko nyata bagi semua orang, termasuk orang percaya. Belum lagi ditambah dengan bencana-bencana alam yang tidak pernah dapat dikendalikan manusia. Ini semua hendaknya membuat kita bijak di dalam merencanakan pengelolaan keuangan kita. Jangan hanya menyusun anggaran dan budget untuk hal-hal yang wajib (misal: persepuluhan/ persembahan, kebutuhan hidup sehari-hari, sekolah, kuliah, dll) atau yang menyenangkan (misal: liburan, belanja, pernikahan, dll.) tetapi juga untuk hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi namun kita siap menghadapinya (misal: sakit-penyakit, bencana, dsb.).

Melalui pengertian ini, maka memiliki asuransi adalah suatu bentuk solusi yang amat baik, efektif dan efisien, yang dapat membantu keuangan kita saat hal yang tak diharapkan terjadi.

2. Hidup Menjadi Berkat
Alkitab mengajar bahwa hidup kita harus menjadi berkat bagi orang lain dan bukannya menjadi beban bagi mereka.

Prinsip ini mewarnai banyak pengajaran dan peristiwa di dalam Alkitab. Prinsip tidak menjadi beban bagi sesama dimulai terlebih dahulu di dalam keluarga kita. Tentu tidak ada anak yang berkata bahwa kondisi kesehatan menurun yang dialami orang tua mereka menjadi tanggungan yang sukar dipikul; semua anak yang baik tentu akan menopang orang tuanya apapun yang terjadi. Namun bagaimana dari sisi orang tuanya itu sendiri; apakah mau membuat diri mereka beban bagi anak dan bahkan cucunya sendiri? Orang tua yang baik, sekalipun dalam keadaan tidak lagi ‘seperkasa’ waktu masih muda, akan berupaya sedapat mungkin tidak menyusahkan kehidupan anak-anaknya.
Rasul Paulus pun mengajarkan prinsip ini dalam,

“Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.”
2 Korintus 12:14

Generasi muda saat ini secara keuangan banyak yang berada dalam kondisi ‘sandwich’. Ini adalah situasi dimana mereka harus menanggung hidup bukan hanya diri mereka sendiri, tetapi juga menanggung orang tua dan juga yang dibawah mereka seperti adik-adik dan anak-anak mereka sendiri. Situasi seperti ini membuat mereka sukar untuk mencicil rumah, membeli kendaraan, menyekolahkan anak di sekolah bermutu dan bahkan banyak yang sudah tidak berpikir lagi ingin menikah setelah melihat tanggungan yang harus mereka pikul. Tidak sedikit yang melihat bahwa kehidupan perkawinan malah menjadi hal yang menyusahkan karena harus menanggung orang tua sendiri dan orang tua mertua. Ditambah lagi tidak sedikit orang tua yang ‘abuse’ pandangan seolah-olah anak harus mengabdi pada orang tua; menjadikan orang tua prioritas di atas segalanya, bahkan melebihi prioritas kepada anak, suami/istri dan bahkan Tuhan!

Pandangan ini sangat tidak Alkitabiah; karena walau betul kita harus hormat dan mengasihi orang tua, tetapi pengabdian utama kita adalah kepada Tuhan. Sebagai orang tua kristiani yang baik dan benar, tentu tidak ingin anak-anak kita terjepit dalam situasi ‘sandwich’. Kita ingin menjadi orang tua yang baik, kakek-nenek yang baik dan tidak membebani anak bahkan cucu. Memiliki perencanaan keuangan yang baik, termasuk asuransi, menjadikan diri kita kelak bukan menjadi beban yang ditanggung generasi sesudah kita. Apapun yang terjadi kepada diri kita, termasuk hal-hal yang tidak diharapkan terjadi seperti sakit atau kecelakaan, tidak membuat diri kita menjadi tanggungan yang mempersulit hidup anak-anak kita atau keluarga kita, tidak peduli seberapa kuat, mengasihi dan perhatian yang diberikan oleh generasi dibawah kita.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa memiliki asuransi adalah hal yang baik dan tidak melanggar prinsip iman dan penyerahan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Jika kita akhirnya memilih untuk memiliki asuransi, kita tetap harus meminta hikmat dari Roh Kudus, sehingga jenis polis dan perusahaan asuransi yang kita pilih adalah sesuai dengan yang kita butuhkan. Amin. (CS)




 

BACK..