Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

 ALLAH YANG ROMANTIK DAN SIMBOLIK

“Sion berkata: “TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.”
Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.
Lihat, Aku telah melukiskan (bahasa inggris: engraved/mengukir) engkau di telapak tangan-Ku;
tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”
(Yesaya 49:14-16)

Ahli-ahli Alkitab telah hampir secara universal menyetujui bahwa separuh dari bobot tulisan Perjanjian Lama berisi jenis sastra puisi yang memuat ‘emosi’ yang ada di dalam hati Tuhan; terutama kepada bangsa Israel. Di sini kita melihat satu aspek dari kepribadian Allah yang romantik dan simbolik.
1. Romantik
Karena Ia menginginkan suatu hubungan yang ‘hidup’ dengan umat-Nya. Bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan dengan Tuhan adalah dasar yang memampukan kita untuk menjalani dan menikmati hubungan sosial lainnya. Dia-lah Bapa pencipta seluruh keberadaan kita yaitu: tubuh, jiwa dan roh. Dia-lah suami dan kekasih jiwa kita. Dia-lah tuan yang berkuasa atas nasib dan hidup kita. Dia-lah sahabat yang senantiasa mendampingi kita. Bahkan Tuhan rela mengenakan analogi dari peran-peran yang ada di dalam masyarakat. Ia adalah hakim, Ia adalah pahlawan, Ia adalah gembala, Ia adalah penjaga kebun anggur, Ia adalah penjunan, Ia adalah tukang pemurni logam dan penatu. Hampir semua profesi yang ada di dalam masyarakat Tuhan rela untuk di identifikasikan dengan diri-Nya karena Ia adalah Allah yang memiliki gairah yang berkobar-kobar (passion and zeal) di dalam mengejar hubungannya dengan kita.

2. Simbolik
Karena Tuhan ingin mengkomunikasikan kebenaran-kebenaran rohani dengan menggunakan alat bantu yang dapat diingat dan dimengerti oleh masyarakat yang sederhana sekalipun. Hampir semua ahli Alkitab dapat melihat konsistensi dari semua perlambangan yang ada, sebagai contoh:
a. Emas
Lambang kekudusan dan kemuliaan hakekat Allah. Hal ini dimungkinkan karena dua sifat yang ada di dalam emas yaitu memancarkan terang (luminosity) dan sifat emas yang tahan terhadap asam.
b. Perak
Lambang penebusan dan pertukaran. Di dalam masalah nilai, dia memiliki tempat kedua di bawah emas karena meskipun perak juga memancarkan terang tetapi perak tidak memiliki konsistensi seperti emas ketika dihadapkan dengan ujian konsistensi kimia saat diuji dengan asam.
c. Warna Ungu
Lambang kerajaan dan sifat-sifat luhur seorang raja. Hal ini dikarenakan bahan untuk menghasilkan warna ungu dihasilkan dari sejenis kerang (mureks) yang didapatkan di pesisir Laut Tengah dan harganya sangat mahal. Jika seseorang memakai kain ungu berarti dia adalah orang yang sangat kaya dan kemungkinan besar adalah seorang bangsawan.

Angka-angka juga menunjukkan suatu pola yang konsisten berdasarkan gematria (numerologi Alkitab) hal ini dikarenakan bahwa pada zaman dahulu bahasa-bahasa di Timur Tengah belum memiliki simbol terpisah untuk angka. Huruf juga dipakai untuk mewakili sebuah bilangan (contoh yang sekarang masih kita kenal adalah angka romawi).
Banyak orang menganggap bahwa gaya bahasa dan simbolisme tersebut dapat menjurus ke arah takhayul dan sinkritisme. Memang hal ini bisa terjadi manakala seseorang lebih mementingkan simbol tersebut daripada isi yang dikandung di dalamnya. Namun simbol dan analogi dapat menjadi petunjuk yang baik untuk mengerti kehendak dan isi hati Tuhan jika kita bisa melihat pesan yang terkandung di dalamnya. Haruslah diingat bahwa simbol dan gambar tidaklah mempengaruhi nasib seseorang, tetapi simbol dan gambar membantu kita untuk mengerti maksud Tuhan untuk saat dan keadaan tertentu.

Sebagai contoh Imamat 19:26-28, “Janganlah kamu makan sesuatu yang darahnya masih ada. Janganlah kamu melakukan telaah atau ramalan. Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu. Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.” Ada tiga hal yang bertautan disitu yang berhubungan dengan moral, spiritual dan estetika sekaligus.
• “Janganlah kamu makan sesuatu yang masih ada darahnya...”
Hal ini berhubungan dengan kesucian moral, karena darah binatang tersebut dipinjam oleh Tuhan sebagai perlambang penutupan dosa bangsa Israel.
• “Janganlah kamu melakukan tenung, telaah atau ramalan…”
Hal ini berurusan dengan kemurnian spiritual bangsa Israel. Alam rohani memang ada dan selain dihuni oleh roh Allah, ada roh-roh lain juga yang dapat mempengaruhi roh manusia.
• “Janganlah engkau mencukur tepi rambur kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu…”
Di sini perintah ini berubah menjadi sesuatu yang bersifat estetikal. Dimanakah hubungan antara darah binatang, persekutuan dengan roh-roh, dan model rambut seseorang?

Di ayat 28, “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.” Tuhan melarang orang Israel menato badannya karena pada zaman dahulu proses mencacah/menggoresi tubuh pasti melibatkan penumpahan darah. Dalam ayat pembukaan di atas kita melihat bahwa secara figuratif Tuhan “mengukir” (mencacah/menato) puri-puri Yerusalem di dalam telapak tangannya. Ternyata dapat terlihat suatu pola bahwa mengukirkan nama, gambar seseorang atas tubuh kita adalah suatu tindakan bakti yang amat ekstrim (extreme devotion) yang menuntut komitmen seumur hidup.

Praktek tato modern adalah suatu contoh kasus. Bolehkah orang Kristen memakai tato? Ada satu fenomena menarik yang berkembang belakangan ini yaitu salon kecantikan yang menawarkan jasa tato removal. Juga munculnya tren tato sementara yang bisa dihilangkan dengan mudah. Apakah yang ditunjukkan oleh hal ini? Ternyata setelah beberapa tahun berlalu banyak orang menyesali tato yang telah dikenakan secara permanen di atas tubuhnya.

Di ayat pembukaan di atas dikatakan bahwa Tuhan “menato” tembok-tembok Yerusalem di atas telapak tangan-Nya. Hal ini bersifat simbolik dan profetik. Tuhan telah menggenapi hal itu bagi Israel secara khusus dan bagi kita secara umum dengan menanggung bilur-bilur untuk menebus dosa kita di atas tubuh kita pada saat penderitaan dan kematian-Nya, yang terjadi di dalam lingkungan tembok-tembok Yerusalem.

Sakramen Sebagai Penggenapan Dari Simbol-Simbol
Di dalam Perjanjian Lama kehidupan bangsa Israel, Tuhan melembagakan banyak hal yang menjadi simbol-simbol bermakna di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat mereka. Tuhan Yesus di dalam Perjanjian Baru secara khusus mengambil dua hal dan melembagakannya bagi kita, dan hal itu disebut sakramen.

• Baptisan Air
Baptisan air adalah lambang kehidupan yang baru. Bukanlah air yang menyebabkan seseorang dilahirkan kembali, diampuni dosanya, dan menjadi anggota keluarga Allah. Tetapi sakramen ini jika dilakukan dengan taat, iman dan didasarkan atas hubungan yang hidup dengan Tuhan akan memberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan baru sebagai orang Kristen.

• Perjamuan Kudus
Roti dan anggur yang melambangkan tubuh dan darah Kristus yang diberikan bagi kita untuk pengampunan dosa. Sebenarnya, pengampunan dosa dapat terjadi kapan saja di mana saja pada saat seseorang meminta ampun dan bertobat sungguh-sungguh dan kembali kepada Tuhan Yesus.

Simbol, angka dan lambang dapat menjadi alat bantu visual yang membantu untuk menjelaskan suatu kebenaran rohani. Berkat-Nya terdapat di dalam iman dan hubungan dari orang yang mengambil bagian di dalamnya.

Di dalam hubungan suami istri, sang suami dapat kapan saja mengajak istrinya makan malam di restoran mewah dan memberikan hadiah; namun pada hari-hari istimewa seperti ulang tahun, anniversary, natal dan tahun baru adalah momen spesial untuk memberikan hadiah yang memiliki makna berbeda daripada hari-hari biasa. Allah yang kita sembah bukan hanya Allah yang baik saja tetapi Allah yang romantik dan simbolik. (AB)




 

BACK..