
GARAM DAN TERANG DI DUNIA YANG HAMBAR DAN GELAP

13"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar,
dengan apakah ia diasinkan?
Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin disembunyikan.
15Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu
meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki
pelita sehingga memberi terang kepada semua orang di
dalam rumah itu.
16Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan
orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan
memuliakan Bapamu yang di sorga."
Matius 5:13-16 (TB2)
Khotbah Tuhan Yesus tentang garam dan terang dunia
dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan kehidupan
orang Kristen yang mempengaruhi dunia, pada intinya
menekankan bahwa orang Kristen tidak boleh hidup sebagai
gated community (masyarakat yang dipagari). Orang
Kristen harus berbaur dan terlibat dalam kehidupan
masyarakat, serta memberikan pengaruh positif dengan
menjalankan kebenaran, keadilan, kesalehan hidup, dan
tidak kompromi dengan cara hidup dunia.
Posisi seperti ini menyiratkan bahwa kehidupan Kristen
akan selalu diperhatikan oleh orang lain dan kekristenan
akan selalu dibandingkan dengan kepercayaan lain. Orang
Kristen tidak hanya diperintahkan untuk menyamai,
melainkan melebihi mereka di dalam kesalehan. Jika di
tengah situasi yang mudah dan nyaman saja orang Kristen
kadang gagal memainkan peran sebagai garam dan terang,
bagaimana jika berada dalam tekanan dan aniaya? Ini
bukan peran yang mudah tentunya. Ini juga berbicara
mengenai identitas; bukan sekadar peran. Peran justru
muncul dari identitas. Hanya orang Kristen yang dapat
menjadi garam dan terang dunia. Karena sebagai pengikut
Kristus kita berbeda dengan orang dunia, kita bukan
sekedar orang yang memiliki agama tertentu, namun
memiliki identitas dan peranan khusus di dunia ini.
GARAM
Garam mempunyai beberapa manfaat: sebagai penyedap
masakan, sebagai pupuk, dan yang paling utama sebagai
pengawet makanan, karena garam dapat memperlambat
pembusukan. Dunia sekarang sedang berada dalam keadaan
yang mendekati kebusukan dan ketawaran. Di tengah
situasi ini orang Kristen terpanggil untuk menunjukkan
identitasnya, mempertahankan apa yang baik dan
mencegahnya dari kebusukan dengan membawa “rasa" Kristus
ke dalam dunia yang hambar secara rohani dan juga
menahan kerusakan moral dengan kesalehan hidup.
Tujuannya adalah memenangkan jiwa tanpa suara seperti
garam yang menyebarkan rasa-nya ke mana-mana, bekerja
dengan pasti dan tanpa penolakan seperti bekerjanya ragi.
(Matius 13:33)
Hari-hari ini kita berada di lingkungan yang mulai
terbiasa dengan pergaulan bebas, sex sebelum menikah,
tidak setia kepada pasangan dll. Kita tidak perlu
menjauhi mereka, tetapi justru menjadi teladan bagi
mereka. Orang-orang akan melihat kita sebagai orang yang
tetap mempertahankan kehidupan yang kudus sesuai dengan
norma-norma Kerajaan Allah. Hidup kita berfungi seperti
garam yang mencegah kebusukan bagaikan disinfektan moral
dalam dunia yang standar moralnya rendah.
TERANG
Yesus adalah terang dunia, orang Kristen adalah sama
seperti Yohanes Pembaptis yang hanya menjadi pelita yang
sementara (Yohanes 5:35) yang mengarahkan orang belum
percaya kepada Kristus. Dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, terang hampir selalu melambangkan
kemurnian, kebenaran, wahyu, dan kehadiran Allah.
Kehadiran orang Kristen harus mampu melambangkan hal-hal
itu dalam masyarakat dan harus memancarkannya di manapun
mereka berada.
Orang Kristen dipanggil untuk memainkan peranan sebagai
terang di tengah kegelapan dunia. Justru di tengah
kegelapan inilah keberadaan orang Kristen menjadi
bermanfaat.
Contoh: Di tengah lingkungan sekitar kita yang senang
bergosip, cepat menghakimi dan menghujat orang, tetapi
tiba-tiba orang-orang mendengar dan menyaksikan bahwa
tutur kata kita yang baik, santun, dan selalu
menggunakan perkataan untuk menasihati dan membangun
orang lain. Tentu saja orang-orang akan langsung
merasakan adanya perbedaan. Atau di lingkungan kerja
kita banyak yang melakukan kecurangan, manipulasi,
bahkan korupsi, tetapi kita tetap memperjuangkan
kejujuran, kebenaran dan integritas. Cara hidup kita itu
akan langsung menyingkapkan kegelapan yang sedang
terjadi, sehingga keberadaan kita akan membawa pengaruh
yang positif kepada mereka. Oleh sebab itu sangatlah
wajar di manapun orang Kristen berada, lingkungan
sekitarnya dapat merasakan dampaknya.
Dampak itu harus dirasakan melalui pemberitaan Injil
maupun melalui cara hidup yang baik yang dapat dilihat
dan diakui orang. Kita harus menjadi pelita yang menyala
dan bercahaya (Yohanes 5:35), sehingga membuktikan bahwa
kita benar-benar pengikut Kristus (Yakobus 3:13).
Tujuannya supaya orang yang masih hidup dalam kegelapan
dapat disadarkan akan dosanya, dituntun kepada kebenaran
di dalam Kristus, dan pada akhirnya akan memuliakan
Tuhan (Matius 5:16).
“supaya kamu tidak bercacat dan tidak bernoda, sebagai
anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah
orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya
di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”
Filipi 2:15 (TB2)
Dunia ini gelap, sehingga memerlukan terang untuk
menyinarinya. Terang itu walaupun hanya sebesar nyalanya
lilin tetap berguna untuk menerangi tempat yang gelap.
Dunia ini sedang membusuk, sehingga memerlukan garam
untuk mencegahnya. Garam yang tidak asin tidak ada
gunanya, terang yang jadi gelap pun tidak ada gunanya
dan tidak berharga di mata Tuhan, sebab kehilangan
hakekat dan perannya. Kalau tidak ada lagi perbedaan
antara orang Kristen dan orang dunia, orang Kristen
menjadi tak berguna, akan dilecehkan, diacuhkan, atau
mungkin juga akan disingkirkan. Sehingga kehadiran orang
Kristen menjadi tidak terasa alias tawar. Dengan
demikian Tuhan tidak akan dipermuliakan tetapi justru
malah dipermalukan.
Makna garam dan terang merupakan metafora yang dipakai
Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat
hidup yang sangat penting. Kehidupan yang tidak dapat
memberi nilai dan manfaat bagi orang lain merupakan
kehidupan yang sia-sia. Sebab apa artinya bila hidup
kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan, dan
penderitaan bagi orang lain.
15Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana
kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi
seperti orang bijak, 16dan pergunakanlah waktu yang ada,
karena hari-hari ini adalah jahat.
17Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah
supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.
Efesus 5:15-17 (TB2)
Dengan kesadaran mengenai waktu yang sangat tinggi,
Rasul Paulus memberikan perbandingan kontras antara
orang bebal dan orang bijak. Penggolongan ini dilihat
berdasarkan cara hidup mereka dalam memanfaatkan waktu.
Mengapa hidup bijak dikaitkan dengan waktu? Karena
setiap hari adalah kita diperhadapkan kepada banyak
pilihan, kita bisa saja tergoda memanfaatkannya untuk
kesenangan diri, bukan kesenangan Tuhan.
Orang bebal mempergunakan waktu yang ada untuk hidup
dalam kecemaran, sedangkan orang bijak akan memanfaatkan
waktunya semaksimal mungkin untuk hidup bagi kemuliaan
Tuhan. Karena orang Kristen telah menerima terang maka
sudah seharusnya orang Kristen mempergunakan waktunya
untuk hidup sesuai terang itu.
Menjauhi kecemaran bukan berarti menjauhi orang yang
melakukannya. Jika orang Kristen menjauhi orang dunia,
bagaimana mereka dapat dimenangkan dan percaya kepada
Tuhan Yesus dan mengalami pembaharuan hidup? Perbuatan
dan orang yang berbuat adalah dua hal yang berbeda.
Perbuatannya memang harus ditelanjangi agar orangnya
bertobat dan mereka datang kepada Tuhan Yesus untuk
menerima pengampunan dosa.
Hakikat menentukan fungsi. Adalah tidak benar bila
anak-anak terang hidup dalam kegelapan. Di tahun Amanat
Agung ini biarlah kita semua orang-orang percaya
memiliki cara hidup yang menjadi garam dan terang bagi
dunia yang gelap ini, dengan cara tidak ikut budaya
kantor yang toxic, tidak menyebarkan hoax, ujaran
kebencian atau provokasi berbau SARA, sebaliknya menjadi
pribadi yang mengembangkan diri dan kemampuan, menjaga
integritas, mendukung teman-teman di dunia usaha,
sehingga banyak jiwa yang dimenangkan bagi Tuhan. Amin.
(JM)