
KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara
kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu
kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal
Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi
kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia,
yang kumaksudkan ketika aku berkata: kemudian dari
padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab
Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya
kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih
karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi
kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”
(Yohanes 1:14-17)
Benarkah klaim pengajaran Hyper Grace bahwa Yesus
Kristus adalah Sang Kasih Karunia itu sendiri? Untuk
menjawab pertanyaan ini secara akurat kita perlu
memahami hal di bawah ini.
Iman bangsa Yahudi adalah berdasarkan catatan dari
orang-orang yang pernah mengalami perjumpaan dengan
Tuhan. Catatan ini harus dianggap sebagai rekaman
peristiwa sejarah; bukan suatu hasil perenungan pribadi
semata-mata yang menghasilkan hikmat.
Ada 2 (dua) bukti obyektif dari perjumpaan orang-orang
ini dengan Tuhan, yaitu :
1. Transformasi
Yaitu perubahan yang sangat mendasar dari tujuan hidup,
kepribadian, dan perilaku dari orang-orang yang
mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Misalnya:
Yesaya, Yakub.
2. Mujizat
Yaitu pemberian kuasa Ilahi yang memampukan mereka
melakukan tugas-tugas yang tidak mungkin diselesaikan
dengan mengandalkan sumber daya/kekuatan sendiri.
Misalnya: Elia, Musa.
Ketika Yesus tampil, bangsa Israel baru saja mengalami
masa 400 tahun di mana tidak ada seorangpun mengalami
perjumpaan dengan Allah. Mereka sedang menantikan
siapakah orang berikutnya yang dipilih Tuhan untuk
mengalami transformasi dan mujizat-Nya.
Ada 4 (empat) kebutuhan yang mendasar yang akan terjawab
ketika seseorang mengalami transformasi akibat
perjumpaan dengan Tuhan, yaitu mengenai:
1. Kebutuhan akan Kebenaran yang Paling Mendasar
(Ultimate Truth)
Di dalam kesibukan sehari-hari manusia sering melupakan
pertanyaan yang paling mendasar, yaitu apakah tujuan
dari keberadaan hidup ini? Jawaban pertanyaan ini hanya
dapat dijawab ketika seseorang berjumpa dengan Allah
sebagai Penciptanya. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu
adalah terang manusia” (Yohanes 1:4). Injil Yohanes
dimulai dengan pernyataan kebenaran tentang Kristus
Yesus sebagai Sang Pencipta (Yohanes 1:3). Manusia
diciptakan bukan hanya sebagai makhluk yang peka
lingkungan, peka diri, tetapi kita diciptakan untuk peka
terhadap sesuatu yang lebih besar daripada kita yaitu
peka terhadap keberadaan Allah (Yohanes 1:9).
2. Kebutuhan akan Keadilan (Justice)
Seringkali seseorang di dalam hidupnya mengalami
disakiti dan diperlakukan dengan tidak adil. Ini
mendorong manusia untuk mencari keadilan. Keadilan
haruslah berdasarkan kebenaran. Ketika berjumpa dengan
Allah yang adalah Sang Kebenaran itu sendiri, barulah
kebutuhan manusia akan keadilan bisa dipuaskan (Ulangan
3:22-26, Ayub 8:3, Mazmur 7:18).
3. Kebutuhan akan Kasih Dan Pengampunan
Setelah kita melihat bahwa Allah adalah Sang Kebenaran
dan Keadilan barulah kita sadar bahwa sebagai manusia
kita seringkali melanggar kebenaran dan keadilan Allah.
Di dalam Injil Yohanes terdapat kisah mengenai seorang
wanita yang tertangkap basah berzinah (Yohanes 8:1-11).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kasih
karunia/pengampunan bukanlah sebuah sistem tetapi Satu
Pribadi yaitu Yesus. Kita berdosa terhadap seorang
Pribadi dan hanya Pribadi tersebutlah yang berhak
mengampuni kita yaitu Kristus Yesus.
4. Kebutuhan akan Kuasa
Ketika manusia memilih untuk melanggar perintah Tuhan,
akibatnya mereka tidak lagi di dalam kuasa Tuhan. Kuasa
Tuhan adalah mutlak dibutuhkan agar manusia dapat
menjalankan mandatnya di bumi. Ketiadaan kuasa Tuhan
atas hidup manusia menghasilkan chaos (kekacauan) dan
kemerosotan hidup. Untuk melawan kemerosotan itu,
manusia, bahkan segala makhluk, merindukan kembalinya
kuasa Allah melalui transformasi dan mujizat yang
dikerjakan-Nya (Roma 8:19-21). Itulah sebabnya tulisan
Yohanes mengenai Tuhan Yesus dipenuhi dengan catatan
tentang mujizat yang dilakukan-Nya, bukan sembarang
mujizat, melainkan mujizat yang dikaitkan dengan
pernyataan Diri-Nya. (AL)
Quote:
Yesus terbuka bagi semua orang
Yaitu bagi mereka semua yang mau berjumpa dengan Kristus