Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

Perjalanan Pemenang :  KESELAMATAN
Sebuah Studi dari Kitab Ibrani mengenai  Justification, Sanctification, Glorification

JUSTIFICATION
1. Manusia Berdosa Tidak Dapat Menghapuskan Kebutuhannya akan Pengampunan
Kitab Ibrani mengambarkan Tuhan Yesus sebagai penggenapan dari ritual-ritual kurban Perjanjian Lama dengan meng ‘superimpose’ kan semua gambaran itu ke dalam diri Tuhan Yesus.
• Dialah Imam Besar yang lebih baik dari Iman Besar di Perjanjian Lama.
• Dialah Kurban yang lebih baik dari kurban darah anak domba di Perjanjian Lama.
• Dialah Bait (tubuh-Nya) yang lebih baik daripada Bait di Perjanjian Lama.
• Darah-Nya berbicara lebih baik (meminta pengampunan) daripada darah Habel (menuntut balas).

2. Manusia Berdosa Membutuhkan Pembenaran dari Tuhan
HANYA YESUS yang bisa menawarkan pengampunan sejati, yang bukan hanya memberikan perasaan kelegaan di dalam hati kita secara subyektif, tetapi memulihkan status kita secara obyektif menjadi orang yang dibenarkan dihadapan Allah, karena darah-Nya menutupi dan membatalkan dakwaan si Iblis kepada kita dihadapan Allah (Kolose 2:14, Ibrani 9:15).

Yesus sanggup memberi pengampunan karena Ia telah memenuhi seluruh standar kebenaran Allah dan Dia menjadi kurban substitusi bagi kita. Karena kita percaya kepada pribadi dan karya-Nya, maka pengampunan itu tersedia bagi kita. Inilah yang disebut JUSTIFICATION.

Pada fase JUSTIFICATION yang ditekankan adalah: MANUSIA DIAMPUNI DARI DOSANYA.

SANCTIFICATION
Di dalam Perjanjian Lama, kekudusan dilambangkan dengan pemisahan secara fisik (‘physical separation’) yang membedakan bangsa Israel dengan bangsa bangsa lain disekitarnya. Di dalam Perjanjian Baru, kesucian hati nurani lah yang menjadi fokus utama didalam proses penyucian.

Ada beberapa aspek yang kita dapat lihat didalam proses SANCTIFICATION ini.
1. Dipenuhi Roh Kudus Setiap Waktu
Kitab Ibrani dan di surat-surat lain Paulus menekankan menekankan pentingnya dipenuhi dengan Roh Kudus, supaya kita mengalahkan/mematikan keinginan daging.
Galatia 5:16-17 berkata,
“maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging…”

Fungsi utama kepenuhan Roh Kudus, adalah membangkitkan talenta dan karunia yang akan menjadi indikator kuat ke arah panggilan dan tujuan hidup kita.

2. Mengalahkan Kelemahan dan Kedagingan Kita
Ibrani 10:26 berkata,

“Sebab jika sengaja berbuat dosa sesudah kita memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu.”

Kata ‘sengaja’ disini diambil dari Bahasa Yunani ‘hekousios’ yang berarti kemauan sendiri . Hal ini dibandingkan dengan dosa yang dilakukan karena ketidaktahuan atau kelemahan. Banyak orang percaya masih ada dalam posisi terbelenggu dalam kelemahan mereka. Dalam hati mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan salah, tetapi mereka belum cukup melatih otot-otot rohani mereka untuk melawan keinginan daging mereka.

Posisi ‘stalemate’ alias gencatan senjata antara sifat manusia baru dengan keinginan daging manusia lama adalah posisi yang amat berbahaya, karena mata hati manusia baru tersebut dapat menjadi buram, dan akhirnya lama-kelamaan mereka kembali lagi ke dalam posisi menyerah, menerima, dan menikmati dosa yang dilakukan oleh manusia lama mereka.

3. Setia kepada Panggilan dan Tujuan Hidup Kita
Di dalam kitab Ibrani dijelaskan bahwa mereka yang murtad atau meninggalkan Tuhan adalah mereka yang tidak tahan terhadap proses pembentukan sebelum pada akhirnya mereka mencapai Tujuan Hidup (‘Destiny’) yang Allah siapkan untuk mereka. Dalam Ibrani 10:35-39 kita melihat bahwa ada kemungkinan orang-orang percaya sekalipun akan kehilangan ‘Destiny’ yang Allah sediakan bagi mereka, dan hal ini memiliki konsekuensi yang serius, bukan hanya hidup kita jadi kurang bahagia dan kurang diberkati, tapi kita beresiko kehilangan perkenanan Allah atas hidup kita.
• Esau adalah orang yang rela menukarkan ‘destiny’-nya atau hak kesulungannya karena keinginan daging yang tidak sanggup dikuasainya. (Ibrani 12: 16-17)
• Samson adalah orang yang menarik yang menunjukkan korelasi antara ketidakmampuan mengendalikan kelemahan daging dan kehilangan tujuan kehidupannya. Samson jelas-jelas memiliki kelemahan daging yang sangat kentara (pesta pora, termasuk main wanita, semua bentuk nafsu kedagingan dan omongan kasar). Ia rela mengkhianati sumpah nazir-nya dengan membiarkan Delilah mencukur ketujuh kepang rambutnya. Pada titik itulah Roh Allah meninggalkan dia. Hanya karena kemurahan Tuhan lah pada akhir hidup nya, Samson teringat kembali kepada ‘destiny’ Allah dalam hidupnya, dan ditengah-tengah kebutaan matanya, ia memohon untuk dipulihkan kembali kepada ‘destiny’ asalnya.

4. Menunjukkan Karakter Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Ibrani 13:1-6,16 dengan indahnya menggambarkan karakter Kristus yang ditampilkan dengan hal hal seperti:
• Menjaga kasih persaudaraan
• Keramahtamahan
• Keprihatinan tulus atas mereka yang membutuhkan dan menderita
• Penggunaan otoritas yang tepat (ingatlah akan orang orang hukuman, jangan sewenang wenang)
• Moralitas seksual dan keluarga
• Integritas ekonomi (jangan rakus/jangan jadi hamba uang)
• Berbuat baik kepada komunitas

Seorang Kristen yang menunjukkan karakteristik seperti ini disebut Kristen yang DEWASA, BERTUMBUH KEARAH KESERUPAAN DENGAN KRISTUS. Kekudusan bukan hanya mengenai tindakan dalam penyembahan, tapi juga mengenai karakter yang tulus, murni, baik, dan berguna bagi sesama. KEKUDUSAN berbicara mengenai hati yang terpaut sepenuhnya dan seutuhnya kepada Tuhan).

5. Hormat dan Setia Kepada Persekutuan Tubuh Kristus
Ibrani 13:7-9,17 mengajarkan kita untuk taat, dan mendukung para pemimpin rohani yang berjaga-jaga atas kehidupan kita. Proses pembentukan dan pertumbuhan rohani tidak dapat dipisahkan dari melaksanakan disiplin-disiplin rohani yang diterapkan oleh para pemimpin rohani di dalam komunitas/gereja dimana orang Kristen tertanam.

Pertumbuhan orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat dipisahkan dari persekutuan dengan sesama orang Kristen lainnya dan kepemimpinan para pemimpin rohani. (Kisah Para Rasul 2:42,47; 4:33; Ibrani 13:7,17,24; Filipi 2:1-2)

Pada fase SANCTIFICATION ini penekanannya adalah: MANUSIA MENANG ATAS DOSANYA.

GLORIFICATION
Paulus menasihatkan hal ini di dalam 1 Timotius 2:1-4:

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikanlah permohonan doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. Untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”

Tidak salah mengharapkan keadaan menjadi lebih baik, ekonomi dipulihkan, dan cita-cita pribadi kita tercapai, tetapi itu semua harus dibawa dalam keselarasan tujuan Allah secara global.

Dapat kita katakan bahwa penggunaan Amanat Agung-lah yang menjadi keinginan hati Allah sendiri dan alur sejarah akan mau tidak mau bermuara kepada penggenapan rencana Tuhan yang besar atas dunia ini, dimana keselamatan diberitakan ke setiap suku, bangsa, kaum, dan bahasa.
Matius 24:14 berkata,

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia, menjadi kesaksian bagi segala bangsa, sesudah itu barulah kesudahannya.”

TUJUAN DARI KEDATANGAN KRISTUS KEMBALI
1. Menyempurnakan Keselamatan Kita dengan Memberikan Tubuh Kemuliaan
Jika kita melihat kembali proses Justification, Sanctification, dan Glorification, maka di tahap kedua (Sanctification) diperlukan kerjasama manusia untuk selalu taat dan dituntun oleh Roh Allah. Semakin dalam tingkat pengudusan kita dan semakin tinggi tingkat pemenuhan Roh Kudus atas hidup kita, maka semakin ’mudah’ bagi kita untuk mematikan kedagingan kita dan juga kejiwaaan kita (‘soulishness’).

Namun selama kita hidup di bumi ini, kedagingan kita tidak bisa 100 persen dihilangkan. Bahkan John Wesley pun tidak percaya kepada doktrin ‘Sinless Perfection’, meskipun pada masa kini ada sebagian kecil dari pengikut Wesley yang mengajarkan hal tersebut .

Pada waktu Tuhan kembali menjemput kita di awan-awan, maka mereka yang sudah terlebih dahulu ‘beristirahat’ di dalam Tuhan, akan dibangkitkan dengan tubuh yang mulia seperti tubuh yang dikenakan oleh Tuhan Yesus pada kebangkitan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan ‘Kemah yang Baru’. Di dalam tubuh yang mulia ini kita akan telepas dari dosa di dalam daging kita, keterbatasan tubuh jasmani dan akan hidup di dalam kondisi yang sama dengan Allah.

2. Memberi Upah Kepada kita Hamba-hamba-Nya
Di dalam banyak perumpamaan Tuhan Yesus dan juga di dalam surat Paulus, konsep mengenai MAHKOTA adalah upah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang setia. Allah adalah Raja diatas segala raja, manusia dalam tubuh kemuliaan: raja kecil yang memerintah bersama Tuhan Yesus.

Di dalam perumpamaan-perumpamaan akhir zaman Tuhan Yesus di dalam Matius 24 dan 25, terlihat beberapa motif yang konsisten.
• Tuan dan Hamba: inilah hubungan fungsional antara kita dan Tuhan selama kita berada di dalam dunia ini. Secara relasional kita adalah anak. Secara fungsional kita adalah hamba.
• Tuan yang pergi jauh dan pada akhirnya kembali membawa upah. Hal ini merupakan penggambaran mengenai hari Kedatangan Tuhan yang tidak dapat diketahui oleh siapapun.
• Penguasaan atas kota, talenta dan mina: ini penggenapan final dari tujuan Allah menciptakan manusia di Kejadian 1:28,

“... beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah …hendaklah mereka berkuasa atas segala ciptaan Allah…”

• Talenta dan mina adalah unit ukuran finansial, yang pada zaman dahulu diukur dengan emas dan perak. Secara simbolis emas dan perak menggambarkan tingkat tingkat kemuliaan akan diterima orang percaya pada hari kedatangan-Nya. (1 Korintus 3:10-15, 15:35-44)

Uang juga berbicara mengenai kemampuan mempengaruhi, memerintah, dan menguasai; itulah yang diwujudkan di dalam pribadi mamon (ilah atas kekayaan). Pada saat itu, kita akan dianggap ‘layak’ untuk memerintah bersama Allah atas seluruh ciptaan-Nya, karena selama kita melayani Dia di bumi ini, kita telah belajar menaklukkan dan menggunakan mamon, bukannya ditaklukkan dan diperalat mamon.

3. Memberi Upah Kepada Kita Hamba-hamba-Nya
Pada akhirnya, keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus diatas kayu salib bukan hanya bersifat individual, tetapi juga kosmik, seperti yang ditegaskan oleh Paulus dalam surat Roma 8:19.

“Seluruh makhluk mengeluh dalam belenggu, menantikan pernyataan anak anak Allah…”

Ia akan datang kembali, ketika semua rencana-Nya telah genap. Ia akan merebut kekuasaan dari tangan Iblis, menghancurkan tahta dan kerajaan Iblis, dan mendirikan Kerajaan-Nya di bumi ini. Tanpa hal ini, maka nilai keselamatan yang dikerjakan Kristus di kayu salib akan menjadi sangat diperkecil. Ia akan hanya menjadi juruselamat yang sanggup menolong, melepaskan, menyembuhkan kita, tetapi selama hidup di dunia ini kita berada dalam ‘rudungan’ penguasaan si jahat yang memang disebut ilah zaman ini (‘God of this Age’).

Itulah sebabnya juga hari Kedatangan Tuhan menyongsong suatu ERA YANG BARU (A NEW AGE) dengan bergantinya penguasa yang lama dengan penguasa yang baru; yang sah, layak, dan akan memerintah dengan segala keadilan dan kebenaran.
1 Yohanes 3:2-3 berkata,
“Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan MENJADI SAMA SEPERTI DIA, sebab kita akan MELIHAT DIA dalam KEADAANNYA yang SEBENARNYA. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.”

Pada fase GLORIFICATION ini penekanannya adalah: MANUSIA TIDAK LAGI MEMILIKI KEHADIRAN DOSA. (AL).


DAFTAR PUSTAKA
_________________________________________
1. Dengan memakai gambaran imamat Perjanjian Lama dan superioritas Yesus dalam Perjanjian Baru, penulis Kitab Ibrani memberikan sebuah konsep diskontinuitas - kontinuitas secara bersamaan. Diskontinuitas dimana sistem kurban secara literal tidak lagi diperlukan. Kontinuitas dimana karya imamat Yesus digambarkan dalam tema Perjanjian Lama. Lihat: I. Howard Marshall, New Testament Theology : Many Witnesses, One Gospel (Downers Grove, IL : IVP Academic, 2004), 611-613.
2. Kata ‘hekousios’ ketika dikaitkan dengan sebuah aksi berarti sebuah tindakan yang dilakukan secara sadar atas kehendak sendiri dan sengaja (voluntary, deliberate). Pengertian ini dapat dikaitkan dengan konsep dosa yang dilakukan dengan sengaja (NET : “defiantly”; ESV : “with a high hand”) dalam Bil 15:22-31. Lihat : Luke Timothy Johnson, Hebrews : A Commentary, The New Testament Library (Louisville, KY : Westminster John Knox Press, 2006), Heb 10:26-27, Logos.
3. Pandangan Metodis Wesleyan dapat diwakili oleh pernyataan berikut : “Ada banyak miskonsepsi tentang Kesempurnaan orang Kristen .. bukanlah kesempurnaan absolut. Ini hanya berlaku untuk Tuhan ... bukan kekebalan terhadap godaan atau kecenderungan dosa.” H. Orton Wiley, Christian Theology, Vol 2 (Kansas City, MO : Beacon Hill Press, 1952), 498, Logos.
 

BACK..