Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

SETIA
(PESAN TUHAN YESUS DALAM MENGHADAPI MASA AKHIR)
 

“Suatu kali dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus bernubuat tentang keruntuhan Bait Allah. Suatu nubuatan yang terlalu berani dan kontroversial pada zaman itu, karena sejak zaman Raja Salomo, tidak pernah lagi Israel memiliki Bait Allah semegah yang dibangun Raja Herodes Agung.

Setelah menubuatkan demikian, Tuhan Yesus keluar dari Bait Allah dan berpisah dengan orang banyak. Maka datanglah murid-murid-Nya kepada Tuhan Yesus untuk menanyakan; bilakah nubuatan itu terjadi. Lalu Tuhan Yesus menjawab dengan beberapa petunjuk yang bukan hanya membahas kejadian itu, tetapi melanjutkan dengan nubuatan beberapa kejadian lain yang akan terjadi di akhir zaman, disertai dengan urutannya, dan yang terpenting ditambahkan dengan petunjuk tentang apa yang harus kita diperhatikan bila nubuatan-nubuatan itu digenapi seperti yang tertulis dalam Matius 24–25. Beberapa petunjuk dengan jelas melukiskan dampak dan akibat bila kita melakukan petunjuk tersebut atau tidak, dan ini adalah penentuan akhir, apakah masuk Sorga atau masuk neraka.

HAMBA YANG SETIA
Di dalam Matius 24-25 ini, ada 2 perumpamaan yang senada dan keduanya menekankan tentang “hamba yang setia.” Ada upah bagi mereka yang setia yaitu masuk Sorga. Kata ‘setia’ adalah kata kunci dalam kedua perumpamaan ini.

Ada beberapa arti dari kata ‘setia’ ini, yaitu:
1. Memiliki Iman Yang Teguh
Kata ‘setia’, dalam bahasa Yunani adalah Pistos, dalam bahasa Ibrani adalah Emunah dan dalam bahasa Inggris dipakai kata Faithful. Kata Pistos dan Emunah selain memiliki arti setia, kata ini juga menerangkan tentang seseorang yang memegang iman dengan teguh atau penuh iman. Perbuatan setia ternyata selalu dihubungkan dengan iman yang teguh atau penuh iman.

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2:17

Dalam hal ini Alkitab hendak mengatakan bahwa ‘setia’ menjadi bentuk perbuatan yang membuktikan dan menghidupkan sebuah iman yang tidak biasa, iman yang teguh dan penuh iman.
Ada iman yang memasrahkan segala hal pada tangan Tuhan, dan ada iman yang mengerjakan tugas pribadi, karena percaya Tuhan akan menyempurnakan. Kesetiaan menjadi sebuah bentuk keseimbangan antara kepasrahan pada Tuhan dan tanggung jawab pribadi yang didedikasikan kepada Tuhan. Bentuk kesetiaan seperti apakah yang dimaksud Tuhan Yesus, yang menjadi pra-syarat masuk sorga itu?

“God's faithful servant has no desire for people to say or to give to him, or what he likes to hear or see, for his first and greatest aim is to hear what is most pleasing to God.” Saint Augustine

2. Layak Dipercaya
"Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi." Matius 24:45-51 (TB)

Definisi Pistos dan Emunah yang kedua adalah trustworthy atau dapat dipercaya. Ternyata salah satu pemahaman Tuhan tentang setia yang hendak disampaikan kepada orang percaya adalah menjadi orang yang layak dipercaya. Perumpamaan di atas menerangkan dengan gambaran yang tepat tentang hamba yang setia, yang beriman penuh, yaitu layak dipercaya.

Gambaran dan definisi setia yang dipakai oleh Tuhan Yesus adalah dengan menunjukkan sikap seseorang terhadap kepercayaan dan tugas yang diberikan kepadanya, dalam situasi tanpa pengawasan. Suatu kepuasan bagi Tuhan, bila mendapati hamba-hamba-Nya sedang mengerjakan tugasnya pada saat dijumpai-Nya. Sebuah perumpamaan yang merangkum beberapa kualitas pribadi sekaligus: Integritas, loyalitas pada pimpinan, loyalitas pada tanggung jawab, ketekunan, produktivitas, tidak bekerja untuk penilaian manusia, dan akhirnya semuanya dapat dirangkum dalam satu kata, yaitu setia.
Pemahaman ini menegaskan juga bahwa iman yang penuh tidak bisa sempurna tanpa perbuatan yang berwujud kerja dan upaya. Iman tidak sama dengan kepasrahan semata, tetapi ada upaya untuk melakukan apa yang bisa dilakukannya sebagai bentuk kesetiaan. Hamba yang setia seperti ini, mendapat upah kepercayaan lebih dari tuannya, mereka dapat bergabung dalam sukacita tuannya dan menjadi pengawas milik tuannya.

Semua orang percaya adalah hamba Tuhan, dan mereka menerima penugasannya masing-masing, seperti: tugas panggilan pribadi, tugas menjadi saksi Yesus, tugas dan peran dalam keluarga, tugas dalam pekerjaan, tugas dalam masyarakat, dan semuanya adalah tugas para hamba Allah dalam kerajaan-Nya. Kesadaran untuk melakukan tugas itu dengan tanggung jawab dan dedikasi pada Tuhan, dihitung sebagai bentuk perbuatan kesetiaan dan pasti menerima upah yang sepadan daripada-Nya.

Gambaran lain dalam perumpamaan ini adalah berbicara tentang ketidaksetiaan. Situasi ini sangat berlawanan dengan yang hamba yang pertama, hamba yang dijumpai saat itu tidak sedang mengerjakan tugasnya pada waktu tuannya datang, Alkitab mengategorikan dia sebagai hamba yang jahat dan setara dengan orang munafik. Jahat di sini dipakai kata ‘Kakos’ yang punya artian tidak seharusnya, pikiran licik, perasaan jahat, perusak.
Kata munafik dipakai kata Hupokretes (STRONG G5273) yang berarti pura-pura, aktor, yang selalu berpikiran lain. Orang ini bukan saja tidak melakukan tugas yang dipercayakan, bahkan mengganggu hamba yang lain yang mungkin saja sedang bekerja. Hamba yang jahat ini akan menerima upah ditempat di mana terdapat ratapan dan kertakan gigi, atau dalam terjemahan lain disebut sebagai neraka.

3. Bisa Diandalkan
Matius 25:14-30, mengisahkan tentang seorang tuan yang akan bepergian dan menitipkan talenta pada tiga orang hambanya. Kepada yang seorang dipercayakan lima talenta, yang seorang lagi dua talenta dan terakhir satu talenta. Ketika tuannya pulang, ketiganya melaporkan apa yang mereka sudah kerjakan pada talenta mereka masing-masing.

“Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25: 20-23)

Definisi Pistos dan Emunah yang ketiga adalah bisa diandalkan. Arti bisa diandalkan disini bukan hanya bicara tentang loyalitas kerja tanpa pengawasan, tetapi juga bicara kemauan dan upaya untuk mengembangkan apa yang dipercayakan, dalam hal ini talenta yang telah dititipkan. Talenta yang sebenarnya bukan milik mereka, hanya titipan tuannya saja, tetapi semuanya itu bisa dikerjakan dan dilipatgandakan menjadi dua kali lipat. Tuhan Yesus dalam perumpamaannya menegaskan bahwa Ia tidak mempermasalahkan hasil akhir, entah sepuluh atau empat, tetapi Tuhan melihat kesetiaan seorang hamba untuk dapat diandalkan tuannya. Ini adalah salah satu bentuk perbuatan yang membuat iman penuh (faithfullness) mereka menjadi sempurna.

Senada dengan perumpamaan sebelumnya, hamba yang tidak melipatgandakan talentanya disebut sebagai hamba yang jahat dan layak menerima hukuman di tempat di mana penuh ratap dan kertak gigi (Matius 25:24-30), yaitu neraka. Dua kali Tuhan Yesus menekankan tentang hubungan hamba yang jahat dan neraka. Jika sampai dua kali Tuhan Yesus berbicara demikian berarti Ia hendak meminta kita semua agar memberikan perhatian khusus pada hal itu.

Sebagai orang percaya Efesus 2:10 menuliskan bahwa kita dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Tuhan sebagai tuan atas hamba-hamba-Nya meletakkan talenta dalam hidup orang percaya.
Talenta itu bisa berbicara tentang keahlian, bakat alamiah, kesempatan dan peluang, relasi, warisan dan banyak lagi yang hadir dalam hidup seseorang tanpa orang itu mengupayakannya. Sebagai orang beriman penuh, sudah seharusnya bila semua talenta itu dikerjakan dan dilipatgandakan menjadi lebih banyak atau lebih besar, itulah bentuk perbuatan yang benar untuk iman yang penuh. Kenalilah panggilan kita dan sadarilah semua pemberian Tuhan, cermati semua situasi yang dianugerahkan, dan syukuri dengan mengelola semuanya menjadi buah kehidupan, karya kehidupan. Seperti yang Paulus katakan dalam Efesus 2:10, “Allah mau supaya kita hidup di dalamnya.”

Upah Dari Kesetiaan
Dari kisah dua perumpamaan di atas, kita dapat melihat, bahwa kepasrahan dalam pengertian Alkitab bukanlah menunggu dan tidak mengerjakan apa-apa. Justru dalam kepercayaan penuh orang Kristen pada Allah, orang itu akan bekerja dan bertanggung jawab melakukan apa yang bisa dilakukannya. Kesetiaan diharapkan muncul sebagai karakter orang percaya, untuk menerima upah yang dijanjikan, yaitu masuk dalam kebahagiaan Tuan kita (Sorga) dan memerintah bersama Dia (menerima kepercayaan perkara besar). Tuhan yang akan menyempurnakan hasil kerja seseorang yang beriman penuh pada-Nya. Seperti Paulus menuliskannya dalam Roma 8:28,
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Amin. (JR)
 

BACK..