Shalom..., Selamat Datang di GBI House Of Grace ~ Rayon 3

Renungan

UJIAN, GODAAN DAN TEGURAN

Kejatuhan dalam dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, yang berdampak luas kepada kehidupan di muka bumi. Kesulitan menjadi bagian yang tidak terelakkan dalam kehidupan ini. Yesus bahkan memberitahukan murid-murid-Nya bahwa hidup orang Kristen tidak bebas dari penganiayaan.

“Semua ini kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia."
(Yohanes 16:33)

Di sisi lain, Iblis ingin menghancurkan kehidupan orang percaya lewat pelbagai kesengsaraan, seperti: sakit penyakit, perasaan ditolak, kesulitan keuangan, kehilangan orang yang dicintai, dan masih banyak lagi. Alkitab menggambarkan Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)

Semua hal ini pada umumnya sering disebut orang sebagai ‘Pencobaan’. Pencobaan sangat identik dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Bahkan seringkali, dengan adanya pencobaan, tidak sedikit anak-anak Tuhan yang marah kepada Tuhan. Mereka menganggap Tuhan itu jahat dengan membiarkan mereka masuk ke dalam kesengsaraan. Bahkan mungkin ada yang mulai tidak percaya bahwa Tuhan itu tidak semaha-kuasa yang dikatakan Alkitab. Kalau Tuhan berkuasa, mengapa pencobaan ini tidak bisa dihilangkan atau segera dikalahkan?

Sering sekali kita mendengar orang berkata apabila mengalami pencobaan, yang penting respon kita harus benar. Jangan sampai salah meresponi atau menanggapinya. Pencobaan akan menghasilkan akhir yang baik atau buruk itu semua tergantung dari respon kita.

Kata ‘pencobaan’ di dalam Alkitab Perjanjian Baru berasal dari kata dasar Yunani, "peirazō", yang mempunyai dua makna, yaitu: ‘godaan’ (temptation) atau ‘ujian’ (trial/test); ujian bertujuan untuk memastikan apakah sesuatu itu memenuhi kualitas tertentu. Jadi, untuk dapat meresponi pencobaan dengan benar dan keluar sebagai pemenang di Tahun Paradigma yang Baru ini, kita perlu bisa membedakan apa itu tujuan dan sumber dari pencobaan yang kita alami.

TIGA JENIS PENCOBAAN
Ada tiga jenis pencobaan dengan tujuan berbeda yang bisa terjadi dalam kehidupan orang percaya:

1. Pencobaan untuk Menguji dan Memurnikan
Tuhan mengizinkan pencobaan yang seperti ini terjadi atas manusia. Ada ‘sidik jari’ Tuhan di dalamnya. Orang-orang saleh dalam Alkitab mengalami ujian dan pemurnian dalam hidupnya.
Ayub, yang merasa telah ‘mengenal’ Tuhan lewat kehidupan yang diberkati, kemudian dimurnikan oleh Tuhan lewat pencobaan, sehingga pada akhirnya ia dapat berkata,

“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
(Ayub 42:5)

Demikian juga dengan Abraham yang diuji untuk mengorbankan Ishak, anaknya yang tunggal dan yang sangat ia kasihi. Abraham hanya dapat mengalami ‘Tuhan menyediakan’ setelah ia lulus dalam ujian ini. (Kejadian 22:14)
Bagaimana respon kita apabila menghadapi pencobaan yang seperti ini? Alkitab berkata:

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
(Yakobus 1:2-4)

“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
(Roma 5:3-5)

Jadi, respon kita adalah tetap mengucap syukur dengan tetap mempertahankan pengharapan kepada Allah, bukan yang lain. Ucapan syukur ini lahir dari hati yang melekat kepada Tuhan dan percaya bahwa “pengharapan tidak mengecewakan”.

Sesungguhnya ujian yang lebih berat terjadi ketika orang diberikan kesuksesan dan berkat oleh Tuhan, seperti dalam kisah Salomo. Dalam kondisi diberkati dengan limpah, apakah mata kita tetap tertuju kepada Sang Pemberi Berkat? Apakah Tuhan tetap menjadi kesukaan kita di atas segalanya?

2. Pencobaan untuk Menggoda Manusia Keluar dari Hukum Tuhan
Pencobaan yang seperti ini berasal dari keinginan manusia sendiri yang melawan hukum Tuhan, seperti yang dikatakan Alkitab:

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:13-15)

Pencobaan dengan tujuan menggoda juga dapat berasal dari Iblis, seperti yang dialami Yesus di padang gurun ketiba Ia “dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” (Matius 4:1-2)

Ada hukum alam dan hukum ilahi yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan kita.
• Jika banyak mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, maka orang akan terkena penyakit jantung koroner.
• Jika tergiur ingin cepat kaya dan melakukan korupsi, maka akan tertangkap oleh KPK.
• Jika terpikat oleh investasi bodong karena dijanjikan keuntungan yang tidak masuk akal, maka akan mengalami kerugian.
• Jika terobsesi dengan pujian, sehingga rela bersaksi dusta, maka akhirnya akan kehilangan kepercayaan dari teman-temannya dan dikucilkan.

Bagaimana respon kita apabila mengalami pencobaan seperti ini? Responi dengan berbalik kepada Allah, lewat pertobatan dan kehidupan baru sebagai manusia rohani, dan juga lawan dan perangi Iblis yang mencoba mengambil keuntungan dari pencobaan ini. Dalam menghadapi cobaan ini, sumber kemenangan kita adalah Yesus, yang “karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” (Ibrani 2:18)

3. Pencobaan untuk Menegur Manusia
Tuhan selalu ingin membawa anak-anak-Nya ke jalan yang benar. Untuk itu, Tuhan perlu menegur dan menghajar anak-anak-Nya lewat pencobaan yang tidak mengenakkan, seperti yang dikatakan Alkitab:

“Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”
(Ibrani 12:5-8)

“Tuhan berbisik dalam kesukaan kita, berbicara dalam kesadaraan kita,
berteriak dalam penderitaan kita.”
C.S. Lewis, Mere Christianity

Imam Zakharia sempat ditegur Tuhan karena ketidakpercayaannya dan menjadi bisu. Namun pencobaan ini tidak membuat Zakharia keluar dari rencana Tuhan. Saat tiba waktunya, Ia taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya, yaitu menamai anaknya ‘Yohanes’ (Lukas 1:20, 63). Zakharia dipulihkan Tuhan, bahkan dipenuhi Roh Kudus untuk menubuatkan keselamatan dalam Kristus. (Lukas 1:67-80)

Bagaimana seharusnya respon kita terhadap pencobaan jenis ini?
Pertama, sadarilah bahwa hajaran itu menandakan bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. (Wahyu 3:19)
Kedua, biarlah dukacita yang terjadi karena hajaran Allah berujung kepada pertobatan dan menghasilkan buah kebenaran. (2 Korintus 7:10; Ibrani 12:11)

Pada akhirnya, respon kita terhadap pencobaan bukan bergantung terutama pada kemampuan kita, melainkan pada kesetiaan Allah. Karena kesetiaan-Nya, pencobaan tidak akan “melampaui kekuatanmu”; Ia akan selalu “memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Jadilah pemenang dalam segala pencobaan kita! (RL)

“Saya tidak pernah mengalami pencobaan yang saya ingini,
tetapi saya tidak pernah mengalami pencobaan yang tidak saya syukuri setelah mengalaminya”
Jack F. Hyles.
 

 

BACK..